Kamis, 09 Februari 2017
Cerpen; Tema : Menghormati orang tua; Hartaku Tak Bisa Membalas Jasa Kalian
Hartaku Tak Bisa
Membalas Jasa Kalian
Air
hujan jatuh perlahan membasahi tanah. Bunyi rintikannya meramaikan suasana
disekitar gadis yang sedang duduk di halte depan sekolah. Hana menunggu dengan
sabar. Hana? Ya, nama gadis itu adalah Hana. Gadis yang sedang menunggu
sendirian dengan penuh kesabaran, menunggu orang tuanya datang menjumputnya.
Dia hanya sendirian, semua temannya sudah pulang. Ia menyadari bahwa ayahnya
harus bekerja, jadi mungkin agak sedikit terlambat ketika menjemputnya. Dia
hanya menerima kondisi itu dengan sabar dan penuh ketabahan.
Tak
beberapa lama, ayahnya datang menjemputnya dengan sebuah sepeda motor butut
yang sudah usang.
“Nak,
maaf ayah terlambat lagi.?” Kata ayah Hana sambil menghampiri anak
sematawayangnya itu.
“Tidak
papa pak, aku baru saja keluar kok.”
“Ayo
naik Hana, kamu harus cepat pilang dan istirahat!?”
“Pak,
bapak kebasahan? Duduk sisni dulu pak, tunggu sampai hujannya reda dulu, nanti
kita baru pulang?!”
“Tidak
nak, nanti kamu kekurangan waktu untuk istirahat?”
“Pak,
nanti kalau kita tetap melanjutkan perjalanan, bapak bisa masuk angin, nanti
bapak sakit pak.”
“Kamu
benar Hana, jika nanti kamu masuk angin, belajarmu pasti akan terganggu” Kata
ayah Hana menyudahi percakapan.
Hana
hanya mengangguk disertai senyuman yang menghiasi wajah cantiknya.
Hana,
seorang gadis yang sangat cantik, baik, dan juga sangat ramah pada semua orang.
Dia tidak malu meskipun ia adalah anak orang yang kurang mampu. Ia tetap sabar
meskipun ketika ia sekolah selalu di ejek atau dijahili oleh teman sekelasnya.
Ia sangat pemberani. Dan yang lebih penting, ia sangat menghormati orang tuanya
dan gurunya. Ia tidak bisa berbohong kepada mereka meskipun hanya sedikit.
Hujan
telah reda, Hana dan ayahnya melanjutkan perjalanannya menuju rumah.
Sesampainya
didepan rumah, Hana mengetuk pintu rumahnya, beberapa detik kemudian pintu itu
terbuka dan dilihatnya ibu yang sangat dicintainya berada dibalik pintu
tersebut.
“Assalamu’alaukum
,bu.” Sapa Hana sambil mencium tangan ibunya.
“Wa’alaikumsalam.
Eh Hana, baru pulang, nak?”
“Iya
bu, tadi hujan, jadi nunggu hujannya reda dulu baru jalan lagi.”
“Oh,
begitu ya? Kalau begitu ayo kita masuk dulu nak, pak, Ibu sudah membuat makan
kesukaan kalian.”
Hana
dan ayahnya mengangguk bersamaan dengan senyuman yang makin melebar, karena
mendengar perkataan ibu yang telah memasakkan makanan kesukaan mereka.
Kebetulan Hana memang mempunyai selera makan yang sama dengan ayahnya.
Sebelum
makan malam, mereka selalu menyempatkan untuk sholat maghrib berjama’ah. Suasana
seperti ini memang yang dinanti-nantikan setiap anggota keluarga. Mereka
melanjutkan makan malam, sedangkan Hana minta izin untuk menyiapkan jadwal
pelajaran terlebih dahulu.
Keceriaayan
selalu menghiasi saat-saat makan di rumah itu. Mereka memang tidak terlalau
berkecukupan, rumah mereka pun hanya sederhana, namun dengan begitu mereka akan
terus selalu bersama. Hana merupakan anak semata wayang mereka. Sejujurnya Hana
mempunyai seorang adik laki-laki, tetapi adiknya itu meninggal karna suatu
penyakit. Uang yang didapat oleh Ayah Hana, tak cukup untuk membayar pengobatan
adik laki-lakinya itu. Karena itu adiknya tidak bisa diselamatkan.Tetapi meski
begitu, Hana dan keluarganya selalu tabah menghadapi cobaan. Sampai sekarang
mereka terus berusaha untuk hidup dan saling melengkapi satu sama lain.
Di
sela-sela keceriaan mereka, Ayah Hana mencoba berbicara kepadanya,
“Nak,
sekarang kamu sudah kelas 3 SMU kan? Kamu mau meneruskan kemana, nak?” Kata
Ayah Hana kepada Hana yang masih fokus pada makannannya. Hana menghentikan
makannya, kemudian mengambil segelas air minum, setelah itu ia baru menjawab
pertanyaan ayahnya.
“Pak,
Hana ingin bekerja saja membantu bapak. Kalau Hana meneruskan, nanti bapak
dapat uang dari mana untuk membayar kuliah Hana?”
“Kalau
kamu ingin melanjutkan kuliah, kamu bilang saja, nak! Masalah biaya biar bapak
yang cari, kamu tidak usah khawatir!” kata Ayah Hana mencoba membujuk Hana.
“Iya
nak, masalah biaya biar kami yang tanggung, yang penting kamu belajar sampai
tinggi dan sungguh-sungguh, nak!” Sahut Ibu Hana. Hana hanya terdiam dan menundukkan
kepalanya. Hingga suara ayah hanya kembali terdengar dan memecahkan keheningan
sementara di meja makan itu.
“Nak,
belajarlah sungguh-sungguh, dan jadilah orang yang sukses. Satu pesan ayah,
jika kamu sudah menjadi orang sukses, jangan lupa beribadah, dan yang kedua
jadilah orang sukses yang jujur.”
Hana
tertegun mendengar ucapan ayahnya yang mengadung seribu makna itu. Hana
mendongakkan kepalanya dan dengan senyum lebarnya ia berkata, “Baik pak, Hana
akan pegang pesan bapak.” Mendengar ucapan Hana, ayah dan ibunya mengukir
kembali senyum yang mereka pasang sejak tadi, yang sempat sirna.
“Dan
satu lagi pak, kalau memang bapak ingin Hana meneruskan pendidikan Hana menuju
jenjang kuliah, maka Hana akan menerimanya. Kebetulan ada kesempatan disekolah
Hana bagi siswa berprestasi akan mendapatkan biasiswa ke perguruan tinggi
selama dua semester. Sisanya Hana akan membantu bapak mencari uang untuk biaya
semester berikutnya, Hana akan mencari pekerjaan paruh waktu selama Hana kuliah
pak.” Ucapan Hana kali ini membuat kedua orang tuanya itu terkejut dan terlihat
dari wajah mereka, meraka sangat bahagia. Dan tentu saja berdoa, semoga anak
kesayangan mereka itu dapat mendapat kesempatan itu.
Musim
telah berganti musim, beberapa tahun telah berlalu. Kini Hana sudah menjadi
seorang sekretaris di perusahaan bertaraf nasional. Setelah sembilan semester
ia tempuh, dan dengan perjuangan yang tentu tidak gampang, ia harus kerja paruh
waktu selama ia menempuh kuliahnya, cobaan berat selalu menjumpainya, tetapi ia
tidak pantang menyerah, ia terus berusaha dan akhirnya menjadi orang yang
sukses seperti sekarang ini.
Dan
ia juga tidak lupa tentang pesan-pesan yang di ucapkan ayahnya ketika dia masih
kelas 3 SMU dulu. Sampai sekarang ia selalu mengabari kedua orang tuanya.
Hingga suatu ketika ia mengirimkan sepucuk surat untuk kedua orang tuanya.
Untuk Bapak dan Ibu ku tercinta, yang
ada disana.
Assalamu’alaikum
Pak,
buk, sekarang Hana sudah menjadi orang suksek. Bapak jangan khawatir, Hana
masih memegang ucapan bapak, Hana masih selalu taat beribadah, Hana juga sering
berkunjung ke panti asuhan dan memberikan sedikit sedekah kepada anak-anak di
panti itu. Hana sangat senang bisa menjadi orang seperti ini.
Hana
sangat bahgia pak, buk. Tapi kebahagiaan ini tidak akan berarti tanpa kehadiran
kalian di rumah Hana. Hana ingin kalian berdua menemani Hana tinggal disini,
agar Hana bisa selalu melihat wajah Bapak dan Ibu setiap hari, dan bisa mencium
tangan kalian ketika akan berangkat kerja. Hana sangat merindukan kalian.
Ada
yang ingin Hana beritahu lagi pak, buk. Sekarang Hana sudah mempunya orang yang
akan mendampingi Hana, namanya Dzaky Irsa Fadlurrahman, dia juga teman kerja
Hana. Hana ingin Bapak dan Ibu melihat langsung kekasih Hana ini. Hana tidak
mau berhubungan dengan seseorang yang tidak di restui bapak, dan Ibu.
Sudah
dulu pak, buk, hanya ini yang ingin Hana sampaikan. Kabari Hana jika kalian
ingin kemari, ini ada sedikit uang untuk biaya transportasi jika Bapak dan Ibu
kemari. Sisanya bisa digunakan untuk keperluan lainnya. Hana pamit dulu Pak,
buk.
Wassalamu’alaikum
~Hana~
Hana
“Meskipun
hartaku tidak akan bisa membalas jasa-jasa kalian pak, buk” kata Hana dalam
hati selah membaca surat yang ditulisnya itu, yang kemudian ia masukkan kedalam
amplop.
Sudah
dua hari berlalu setelah Hana mengirim surat itu. Hana menunggu jawaban dari
orang tuanya, ia sangat gelisah sebelum menerima surat balasan dari kedua orang
tuanya. Ia mondar-mandir didalam kamarnya, gelisah, itulah yang dirasakannya
saat ini. Tak beberapa lama bunyi bel pintu rumahnya berbunyi. Dengan segera ia
menuju pintu dan membukanya.
“Nona,
ini ada paket untuk anda.” Kata seorang pengantar paket depan rumahnya.
“Ah
iya, terima kasih.”
“Silahkan
tanda tangan disini.” Sambil menunjukkan sebuah lembaran untuk ditandatangani.
“Baik,
terima kasih.”
Hana
segera masuk rumah dan membuka paket itu, dan isinya adalah sebuah buku. Sebuah
buku yang tidak asing bagi Hana, dilihatnya sebuah amplop jatuh dari buku itu.
Hana kemudian mengambil amplop yang sempat terjatuh itu dan membuaka isinya,
betapa senangnya dia setelah melihat apa isi amplop itu, surat balasan. Hana
membuka dan membaca surat itu, didalamnya terdapat bahwa ayah dan ibunya akan
datang menemuinya. Betapa bahagianya Hana setelah membaca surat balasan itu.
Ia
kemudian segera bersiap karena pesawatnya dua jam lagi akan sampai di bandara
Soekarno Hatta. Hana hanya berdandan seadanya, dan meraih tas kecilnya. Ia
kemudian menyambar kunci mobilnya yang tergeletak dimeja rias dan kemudian keluar
membawa mobilnya melaju ke bandara.
Sesampainya
dibandara, Hana langsung mencari-cari kedua orang tuanya. Dan tak lama
kemudian, Hana melihat wajah dua orang yang tidak asing lagi baginya
melambaikan tangan kepadanya. Hana membalas lambaian tangan kedua orang itu
kemudian menghampirinya. Hana segera mencium tangan kedua orang tuanya itu.
Hana mengajak kedua orang tuanya masuk kemobilnya yang kemudian melaju kembali
kerumah.
Kedua
orang Hana terkejut sekaligus takjub melihat rumah besar dan mewah yang ada di
depannya.
“Hana,
ini benar-benar rumah kamu nak?” tanya ayah Hana penasaran.
“Iya
pak, rumah ini Hana bangun untuk Bapak dan Ibu, dan untuk cucu-cucu bapak dan
ibu kelak. Hana ingin meramaikan rumah ini dengan bacaan-bacaan al-qur’an yang
dibacakan oleh seluruh penghuni rumah ini.”
“Kamu
telah banar-benar menjadi anak yang kami harapkan nak.”
Hana
Hanya tersenyum mendengar pujian ayahnya itu. Mereka semua memasuki rumah. Hana
segera menelepon kekasihnya untuk segera datang kerumahnya.
Kekasihnya
itu telah datang dan berbincang dengan kedua orang tua Hana. Akhirnya mere
memutuskan untuk merestui hubungan mereka. Hana sangat senang mendengar
keputusan kedua orang tuanya itu.
Hana
sangat senang bisa membahagiakan kedua orang tuanya selagi mereka masih ada, ia
senang bisa melihat wajah mereka setiap hari, dan bisa mencium tangan mereka
ketika akan berangkat kerja. Semua itu telah tercapai, semua keinginannya untuk
membahagiakan kedua orang tuanya terlaksana sudah. Ayah dan Ibunya pasti bangga
kepadanya.
~Fin~
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar