Sabtu, 17 Desember 2016
Cerpen Horror
Desa Yang Malang. Chapter : 1. ~Gadis itu~
Sudah sekitar satu tahun aku
berada didesa ini, desa terpencil yang bernama Takuyaki.
“Tokugawa-kun,
Ohayou..!” kata seorang gadis dibelakangku, didikuti suara langkah kakinya yang
cepat.gadis itu selalu menemuiku setiap pagi, entah apa tujuannya. Semenjak aku
tinggal disini, aku selalu diikuti oleh gadis itu. Dan itu membuatku merasa
risih.
Aku hanya membiarkan dan tidak
membalas spaannya. Tapi baginya,aku melihat wajahnya saja sudah membuatnya
bahagia.
Aku
berjalan menyusuri desa, dan berkali-kali melihat para orang tua didesa sedang
bergosip. Telingaku teras panas mendengarnya. Aku berharab bisa segaera keluar
dari desa yang busuk ini.
“Aku
pulang.” Kataku sambil mengetuk pintu rumah. Tak lama kemudian pintu itu
terbuka. Kulihat orang dibalik pintu itu. Tokugawa Kisimoto, ayahku. Dia yang
membuka pintunya.
“Yuuki,
kau habis dari mana?” tanya beliau.
“Aku
habis keluar, sekarang aku capek, aku mau kekamar.” Kataku dan beranjak
kekamar.
Seandainya
ayah berubah pikiran, seandainya beliau tidak pindah kedesa busuk ini.......
Cerita
asal mula aku disini......
Saat itu, aku masih duduk di
kelas 3 SMP di Kyoto. Aku merasa nyaman tinggal disana. Kota besar yang
menyediakan semua kebutuhanku. Dan mereka, kakek, nenek , ayah, dan ibuku,
mereka semua menyayangiku. Tapi, kemalangan yang besar menimpa keluargaku.
Kakekku meninggal ketika nenek tertimpa sakit berat. Dan tak lama setelah
kepergian kakek, nenk pun ikut meningglakan kami. Pada awalnya aku tak percaya
akan jadi sperti ini. Kemudian ayah mengambil keputusan untuk meninggalkan kota
dan tinggal didesa. Pada awalnya aku memang sudah tidak setuju, karena aku tak
tega meninggalkan makam kakek dan nenek sendiri di Kyoto yang ramai ini, tapi
aku tak bisa melawan permintaan ibu. Dan karena itulah aku mau tinggal didesa
ini.
Jujur
saja, aku sangat tidak nyaman tinggal didesa ini. Aku ingin segera lulus dan
mendapat nilai terbaik, kemudian aku akan belajar di Universitas terbaik dikota
dan meninggalkan desa ini untuk selama-lamanya.
Dua tahun, dua tahun lagi, aku
harus bersabar selama dua tahun untuk segera keluar dari desa yang busuk ini.
“Tok,
tok, tok..” Suara ketukan pintu kamarku, disertai suara ayah memanggil namaku.
Kemudian pintu kamarku terbuka perlahan-lahan.
“Ada
apa ayah?” Tanyaku
“Aku
membawakan makan siangmu. Bukankah tadi kamu belum makan?” Kata beliau.
“Iya,
terima kasih.” Lanjutku.
Aku
memandang luar jendela. Terlihat banyak sekali pohon dan semak-semak. Aku
memperhatikannya. Aku melihat salah-satu dari semak-semak itu bergerak pelan.
Aku berdiri dari dudukku dan mendekati jendela kamarku. Tiba-tiba muncul
seorang gadis dari dari semak-semak itu, gadis yang sama yang selalu
mendatangiku tiap pagi. Dengan dingin dan tanpa menghiraukannya lagi, aku
segara menurup jendela dan tirai di kamarku. Itu memang sudah jadi kebiasaan.
Keesokan
harinya, aku kembali menyusuri jalan. Sedangkan suasana saat itu matahari
sangat terik. Aku memandang kearah dimana itu adalah jalan keluar dari desa ini
aku berharap bisa segera mencapai titik itu, hanya itu harapanku sselama ini.
Tak
lama, kemudian aku mendengar suara langkah kaki, mendekatiku, semakin mendekat
dan cepat, sangat dekat dan berhenti.
“Tokugawa-kun,
kau disini lagi ya?” kata gadis itu. Seperti biasa, aku hanya cuek dan tidak
menghiraukannya.
“Rasanya,
aku ingin segera keluar dari desa yang menyebalkan ini..” Kata gadis itu
tiba-tiba. Aku terkejut mendengarnya. Rasa terkejutku itu membuatku melihatnya.
Dia tertawa riang, seperti baru saja mendapatkan apa yang dia impikan.
Tapi....ada
sesuatu yang masih mengganjal..... Siapa, siapa sebenarnya..gadis itu........
Hari terus berlalu, seperti yang
sudah kukatakan, gadis itu selalu menemuiku, sekarang juga. Sudah satu tahun
aku tinggal disini, tapi gadis itu belum juga memberitahukan siapa dirinya yang
sebenarnya. Dia selalu menemuiku, mengikutiku, bahkan selalu mengawasiku.
“Ohayou,
Tokugawa-kun..!” Kata gadis itu.
“Nane
desuka?” kataku, dan untuk pertama kalinya aku menjawab sapaannya.
“Ini
untukmu..” kata gadis itu sambil memberikan sebuah kotak kecil bersampul kertas
kado dan dihias dengan rapi.
“Apa
maksudnya?” tanyaku dingin.
“Hari
ini ulang tahunmu bukan? Aku mengetahuinya dari ayahmu. Anggap saja ini sebagai
permintaan maaf karena telah mengganggumu selama ini.” Lanjutnya.
“Jadi
kau menyadarinya? Baguslah, jadi aku tak perlu memberitahumu kalau tindakanmu
itu merepotkan dan membuatku risih.” Balasku dengan nada dingin.
“Baiklah, saat ini lebih baik aku
pergi dulu. Sayonara, Tokugawa-kun..!” kata gadis itu lagi.
Aku
berbaring sejenak dikamar, kemudian teringat oleh kotak yang diberikan gadis
itu. Aku beranjak dari tempat tidurku dan mengambil kotak itu dilaci, kemudian
duduk kembali. Aku memperhatikan kotak itu. Aku membukanya, didalamnya terdapat
kota kado lagi, aku membuka kotak kado itu, dan menemukan kotak lagi, aku
membuka kotaknya, dan menemukan kotak lagi. Semua ini membuatku frustasi. Jika
kotak didalam kotak ini ada kotak lagi aku akan menyerah. Sebenarnya apasih
yang diingankan gadis itu..?
Aku
mencoba membuka kotak ini perlahan-lahan, dan aku tidak menemukan sebuah kotak
lagi, melainkan sebuak kertas yang dilipat sangat kecil. Aku mengambil kertas
itu, membuka dan membacanya...
|
Untuk :Tokugawa Yuuki-kun
Aku
sangat senang sekali biasa mengenalmu, dan aku berharap kamu juga
mengenalku. Maafkan aku yang selalu merepotkanmu dengan mengikutimu terus.
Aku juga berterima kasih karena kamu sudah memberikan kesempatan dekat
denagnmu, meski aku masih tidak kau pedulikan, tapi aku merasa senang.
Dan...semoga kau mengerti.
Salam.
Yura
Megumi.
Yura megumi
|
**
Jadi,
gadis itu bernama... Yura Megumi......
................
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar