Minggu, 11 Desember 2016
Cerpen
Awal Perjuangan
“Kyouko, sudah larut malam, ayo tidur
nak.” Pinta ibu. “tidak, aku tidak mau. Aku belum mengantuk bu.” Jawabku. “Kyouko sayang, ayo tidur nak, nanti ibu akan mendongengkan sesuatu lho.” “benarkah,bu? Baiklah aku akan tidur.” “Apa kau tahu, dulu
ayahmu adalah seorang Koki yang hebat. Ia sangat terkenal. Banyak restoran yang
menginginkannya, tepapi ia lebih melimih untuk membangun usahanya sendiri..”
“Begini
sudah rapi, berangkat sekarang? Oh ya aku belum membangunkan kakak!” kata
Felia. Felia adalah adik perempuanku. Kami adalah Kakak beradik. Felia memang
sangat cantik, tapi ia juga bukan tipe cewek yang feminim. Ia selalu bangun
lebih awal dariku dan selalu membangunkanku. “Kak, cepat bangun! Nanti kita
terlambat!” kata Felia sambil menggedor-nggedor pintu kamarku. “Iya, aku sudah
bangun, tunggulah sebentar, aku akan bersiap!” jawabku.
Setelah
bersiap, aku turun untuk sarapan, ternyata di sana sudah ada Felia yang tengah
duduk manis menyantap makanannya. “Maaf, tadi malam aku habis bermain game
sampai larut malam, jadi kesiangan deh bangunnya.” Ucapku padanya. Ia menelan
makanannya dan menjawabku, “Biasanya juga begitu, kau tak pernah bangun jika
aku tidak membangunkanmu.” “Iya iya, aku minta maaf.” Pintaku. “Ya sudah deh,
cepat makan kak, nanti kita terlambat!” suruhnya. “iya, aku atau.” Jawabku
singkat. Sambil aku makan, aku masih memikirkan tentang mimpiku semalam, aku
termenung. Aku mengingat-ingat mimpi itu. Ayah, mimpi itu tentang ayah, aku
ingin menjadi koki sepertinya, dan....” “kak, sadar kak! Jangan melamun” suara
Felia membangunkan lamunanku. Ternyata dari tadi aku sedang melamun. Makanan
yang ada di piringku baru setengah yang aku makan. “Kakak kenapa? Apa ada
masalah?” tanyanya. “Tidak, aku baik-baik saja, Cuma teringat sesuatu.” Jawabku.
“Yasudah, mari kita berangkat!” ajaknya.
Kami berangkat sekolah bersama, kami
hanya jalan kaki karena kebetulan sekolah kami tidak terlalu jauh dengan rumah.
Aku Kyouko Kazawa kelas 2-A di SMP Akachi, adikku Felia Kazawa kelas 1-A SMP Akachi. Kami
disekolahkan di tempat yang sama, itu karna ibu kami yang menginginkannya.
“Kak, disana ada temanku, aku akan
menyamperinya.” Pinta Felia. “Baiklah tererah kau saja.” Jawabku. Aku
melanjutkan langkah kakiku sampai ada yang berteriak memanggil namaku. Aku
menoleh kebelakang dan, “Yo, apa kabar. Pagi-pagi udah jalan sama cewek imut
nih?” ledek Hyuga. Kirasagi Hyuga, lebih tepatnya Hyuga, ia adalah teman laki-laki
pertamaku di sekolah ini. Dia sangat baik dan suka bercanda. Dan lebih lagi,
hanya dia yang tau bahwa aku dan Felia adalah kakak beradik. “Apasih, nggak
lucu tau. Udah tau dia itu adikku, masih aja diledekin melulu.” Jawabku dengan
nada kesal. “Hahaha..hahaha.” tawanya.
Sesampainya di sekolah, aku segera
menuju kelas, dikelas aku menaruh tasku di bangku dan tidak lama kemudian Hyuga mengahampiriku, mengobrol denganku sampai tidak terasa bel masuk berbunyi. Ia
segera kembali ke tempat duduknya, tak lama kemudian guru kami datang. “Selamat
pagi para siswa!” sapa Sensei kami. Lebih tepatnya ia bernama Tsucimikado Kana, tapi
kami sering memanggilnya Kana-Sensei.Beliau adalah guru tata boga sekaligus wali kelas kami.
“Selamat pagi!” balas siswa satu kelas.
“Perkenalkan, dia adalah murid baru yang akan ikut belajar dikelas ini. Siswa
baru silahkan perkenalkan dirimu.” Kata Kana Senssei. “Baik, terima kasih Sensei.
Teman-teman, perkenalkan namaku Tachibana Aisha, panggil saja aku Aisha. Aku akan
ikut belajar dikelas ini. Mohon bauntuannya!” kata gadis itu, lebih tepatnya
Aisha sambil membungkukkan badan. “Baiklah Aisha, disana tempat dudukmu.
Silakan duduk dan saya akan memulai pelajarannya.”kata Kana-sensei. “Baik, terima
kasih.” Balas Aisha.
“Baiklah, pelajaran hari ini adalah praktek. Silahkan semuanya menuju ke ruang masak!” perintah Kana-sensei. Setelah
sampai disana, aku segera memakai celemek. “Tema
masakan hari ini adalah kue. Kalian biasa membuat kreasi dengan membuatnya
berbentuk cup atau semacamnya. Bahan-bahannya sudah tersedia di meja kelompok
masing-masing, ambilah sesuai kebutuhan kalian. Mengerti?” tutur Kana sensei.
“Kami mengerti.” Sahut para siswa bersamaan.
“Hai Kyouko, apa yang sedang aku buat?
Baunya enak sekali..” Kata Hyuga yang tiba-tiba muncul di depanku. “Eh Hyuga, apa
yang sednag kau lakukan? Mengintip masakan orang seenaknya. Dasar!!” gerutuku
kesal. Tiba-tiba semua pandangan tertuju pada kami. “Eh? Ada apa? kenapa kalian
memandangku seperti itu?” tanyaku ragu. “Kyouko, tolong jangan buat keributan
seenaknya. Memangnya apa yang sedangkau bicarakan ha? Apakah yang kau masak
sudah benar sehingga kau ribut sendiri ha? Kalau begitu sini! Bawa kemari
masakanmu itu!” Tegur Kana-sensei.
Karna bicaranya yang amat sangat cepat,
aku sampai tidak bisa menjelaskan apa yang sebenaarnya terjadi. Yasudah,
langsung saja kuberikan makanan yang aku masak. “Baiklah, akan aku coba. Jika
ini rasanya tidak enak, kau tidak boleh lagi mengikuti kelas memasak ini pada
jam pelajaran saya sampai kenaikan kelas, mengerti?!” serunya. “Baik, saya siap
menerima hukuman apapun atas kecerobohan saya.” Jawabku tegas. Ketika beliau
mencobanya aku khawatir, apakah tadi sudah aku masukkan gula belum ya? Aku
kaget ketika beliau membelalakkan mata. “Ada apa bu?apa rasanya tidak enak?”
tanyaku. “sudah kuduga, pasti belun kucampurkan gula.” Unpatku dalam hati.
“Rasanya..., rasanya enak sekali. Kyouko, apa resepnya dan bagaimana cara
memasaknya nak? Ini seperti kue buatan koki terkenal dari restoran bintang
lima.” Kata beliau. Ternya pikiran negatifku itu salah.
“Apakah benar sensei? Aku juga mau coba?!” kata
salah satu siswa laki-laki. “Oh, kamu yang disana. Kamu mau mencobanya juga?
Kemarilah, sini coba juga!” suruh beliau kepada siswa laki-laki tadi. Kemudian
ia memakan satu kua buatanku. “Wah..., teman-teman benar kata Kana-sensei. Kue ini
enak sekali?” komennya. “wah benarkah? Aku juga mau coba, aku juga mau, aku
juga......” suara teman-temanku yang lain sambil mengambil kue dari nampan yang
aku bawa. Mereka mengambil kue dan meninggalkan nampannya.Aku hanya pasrah.
Sebenarnya aku menyesal karna tidak bisa mencicipi kue buatanku sendiri, tapi
aku senang karna teman-temanku bahkan guruku menyukai masakan yang aku buat.
Bel istirahat berbunyi, “Aku sangat
capek sekali sehabis pelajaran ini. Lebih baik aku cari makan dikantin. Tadikan
tidak dapat bagian.” Ketika akan menuju kesana, aku tak sengaja melihat Aisha dia
sedang mengantri dibarisan paling belakang. Aku segera mnghampirinya. “Aisha,
apa ada yang bisa kau bantu?” tanyaku. “Terima kasih, tapi tidak ada yang bisa
kau bantu.” Jawabnya. “Atriannya panjang sekali ya.” Kataku lagi. “Eh, iya.” Sahutnya.
“Aku akan menerobos barisannya. Apa kamu mau menitip sesuatu?” tanyaku. “Etto,
itu tidak perlu, aku akan mengantri saja disini.” Jawabnya. “kalau kau
mengantri nanti keburu habis lho? Sudah sini mana uangnya. Mau titip apa?”
kataku sambil merebut uang dari tangannya. “Itu...emh..., roti isi sanwich dan
kacang.” Jawabnya. “Baiklah, tunggu sebentar ya. Pesanan akan segera datang..!”
kataku sambil bercanda.
Aku menerobos barisan antrian.
Sesampainya disana aku melihat banyak roti yang sudah habis terjual. Untung
masih ada satu roti pesanan Aisha. “Ini semua berapa bu?” tanyaku pada penjaga
jantin. “Itu semuanya tujuh ribu.” Jawab ibu kantin. “ini bu uangnya.” Aku
memberikan uang itu dan segera pergi. Aku mencari Aisha. Setelah dua menit
kurang lebihnya, aku menemukannya di bangku taman dekat kantin. Aku segera
menghampirinya. “Ini, semuanya Tiga ribu. Ini kembaliannya.” Kataku. “Em..,
terima kasih banyak. Berkatmu aku bisa makan siang lebih awal.” Katanya
kembali. “Tak, apa. kau kan anak baru, jadi mungkin kau masih ragu untuk
berbuat onar disekolah ini.” Kataku ketus. “ah, itu tidak mungkin terjadi kan?
Lagi pula, gadis polos sepertimu tidak akan berbuat seperti itu. Lain kali
kalau kau sedang kesulitan panggil saja aku.” Lanjutku. “Aku mengerti. Oh ya,
siapa namamu? Aku belum tau siapa namamu. Pada hal kau orang yang menolongku.”
Tanyanya ragu. “Namaku Reikhan Johannes, panggil saja Reikhan. Ya sudah aku
pergi dulu. Sampai jumpa!” kataku seraya melambaikan tangan ketika
meninggalkannya.
Bel masuk berbunyi menandakan jam
istirahat telah usai. Semua siswa memasuki kelasnya masing-masing. Kebetulan
jam kedua ini guru kami sedang keluar jadi hanya diberi tugas dan di tinggal
dalam pengawasan guru lain. Karna tugasnya yang tidak terlalu sulit, aku cepat
selesai mengerjakannya. Sedangkan teman-teman yang lain malah asyik ngobrol dan
bercanda. Tak lama kemudian ketua osis dan wakilnya masuk kekelasku.
“Perhatian semuanya! Kami akan
menyampaikan pengumuman. Sekolah akan mengadakan lomba memasak antar siswa.
Tema memasak kali ini adalah makanan hangat saat musim dingin. Lomba akan
diadakan satu minggu lagi. Bagi yang mengikuti silahkan segera mendaftarkan
diri. Pendaftaran mulai besok sampai lusa di guru pembimbing kelas memasak.”
Apa ada yang perlu ditanyakan?” tanyanya. Salah satu siswa perempuan dikelasku
mengakat tangannya. “permisi. Lomba akan dilaksanakan dimana?” tanya Sania.
Gadis tadi bernama Sania. Dia itu gadis yang menggapku sebagai rivalnya dikelas
memasak. “Lomba akan dilaksakan di ruang kelas memasak. Gabungan kelas A dan B.
Apa sudah jelas?” tanya ketua balik. “Ya, terima kasih.” Jawab Sania. “Terima
kasih atas perhatiannya.” Kata ketua osis seraya meninggalkan kelas diikuti
oleh wakilnya.
Jam pelajaran telah usai, dan bel tanda
pulang berbunyi. Aku menunggu Felia didepan gerbang tetapi agak jauh sedikit
agar tidak ada kecurigaan diantara kami. “Kakak!” seru Felia dari kejauhan.
“Maaf, tadi aku membantu temanku berkemas jadi agak lama aku keluar.” Lanjutnya
sesampainya dihadapanku. “Iya, tidak papa. Yasudah ayo pulang!” ajakku.
Aku dan Felia jalan barsama sepulang
sekolah. Kami berdua sengaja lewat jalan yang berputar, karena kami berniat
untuk jalan-jalan. Ditengah perjalanan kami mengobrol tentang hal-hal disekolah
kami. “Sekolah di hari Selasa memang melelahkan. Bagai mana menurutmu kak?”
Tanya Felia. “Sepertinya aku juga merasa begitu.” jawabku sambi tersenyum. “Tadi
aku mendengar rumaor bahwa kau habis diomelin Kana-sensei, apa itu benar?”
Lanjutnya. “Bagai mana kau bisa tahu? Ya itu memang benar.” Jawabku pasrah. “Katanya
orang yang pendiem, kok sampai di omelin guru sih?” ledek Felia. “Kamu itu.
Udah, jangan bahas masalah itu lagi ah!” gerutuku kesal. Kami berjalan sambil bercanda ria.
“Fiuh..., akhirnya sampai juga di
rumah.” Eluh Felia. “Mau makan malam apa hari ini?” tanyaku seakan akan aku
buatkan. “Apa kakak akan memasakkannya untukku?” tanyanya balik. “Tentu saja.
Apa kamu mau aku kasih uang untuk membelinya sendiri di restoran?” kataku. “
Tentu tidak. Em, malam ini aku ingin makan stik daging porsi besar. Boleh
tidak?” tanyanya. “Tentu saja. Lagian, di kulkas masih ada daging yang belum
dimasak. Mau membantuku?” tanyaku. Ia menjawab dengan anggukan disertai
senyuman semangat.
“Selamat makan! Aku coba ya kak?! Wah
masakan kakak enak sekali!” kata Felia. “Benarkah, aku rasa aku hanya masak
seperti biasa.” Balasku. “Tolong ajari aku dong kak?!” pintanya. “ baiklah,
kapan-kapan kita masak bareng lagi ya?!” “Hore...!”
Keesokan harinya, kami berangkat sekolah
bersama seperti biasa sesampainya disana, kami berpisah untuk memasuki kelas
masing-masing. “Sampai jumpa kakak! Jangan lupa ajari aku mamasak ya!” katanya
disertai lambaian tangan. Aku hanya pasrah, “Woi, lagi ngelamunin siapa nih?”
ledek dia. Siapa lagi kalau bukan Hyuga. “Apa kamu mengikuti lomba memasak tahun
ini? Masakanmu enak, kenapa tidak ikut? Tahun lalu si ratu masak di kelas kita
jadi juaranya lho.” Katanya. “Aku sih masih ragu-ragu.” Balasku. “Kenapa harus
ragu-ragu? Kamu kan bisa masak? Kalau kamu ikut kamu harus hati-hati. Seperti
yang aku bilang tadi. Ratu memasak kita juga mengikuti lomba tahun ini lho,
jadi kamu harus semangat! OK?! Yasudah aku tinggal dulu ya.” Bisiknya.
Bel istirahat berbunyi. Aku berniat
untuk daftar sekarang sebelum Suzuka tahu, kalau sampai dia tahu. “Eh Kyouko,
kamu mau kemana? Kok arahnya keruangan Kana-sensei, kamu mau mengikuti lomba juga
ya?” tanya Suzuka dengan tatapan tajam. Ia yang tiba-tiba muncul di depanku. Aku
tidak bisa mengelak omongannya kalau aku akan mendaftar lomba, yah usahaku jadi
ketahuan deh. “Sudah satu menit tidak menjawab berarti jawabanku benar. Kalau
memang kamu mau ikut lomba. Siap-siap kalah ya?!” katanya merendahkanku. “Ya,
aku mamang akn mengikuti lombanya. Tapi aku tidak akan sampai kalah melawanmu.
Aku akan berusaha.” Belaku. “Wah, berani juga menantangku ya. Sudah kuputuskan,
kita akan bertanding sebagai rival. Jika aku yang menang, kau harus patuh
padaku.” kata Suzuka. “Jika aku yang menang?” Sahutku. “Jika kau yang menang, aku
akan lakukan semua perintahmu.” Balasnya. “Baiklah, aku terima tantanganmu.”
Jawabku tegas. Kami berdua berdepat didepan Ruangan Kana-sensei. Kami saling
menatap tajam.
Kemudian kami saling berbalik badan dan
meninggalkan satu sama lain. “Kak, kamu habis dari mana?” Kata Felia saat
bersimpangan denganku. “Ya, tadi sih mau daftar, tapi ada badai datang jadi
tidak jadi.” Tuturku. “Apa? tidak jadi? Sini ikut aku! Aku akan membawamu ke Kana-sensei langsung.” Guman Felia. “Ano, permisi. Dia mau mendaftar lomba memasak
bu.” Kata Felia. “Oh ya silahkan. Kamu Kyouko? Jadi kamu memutuskan untuk ikut
juga ya? Kamu harus yakin, masakanmu memang luar biasa. Tapi kamu harus
hati-hati dengan pemanang lomba tahun lalu dia juga mengikuti lomba kali ini
lho...?” tutur Kana-sensei seraya mencatat namaku. “Ya sensei, saya sudah tahu. Bahkan
kami sudah membuat perjanjian.” Balasku. “Oh, begitu ya.” Kata Kana-sensei. “Sensei,
kami permisi dulu.” Kata Felia. “Oh, ya silahkan. Semangat ya Kyouko!” kata Kata Kana-sensei. Aku hanya mengangguk mantap.
Malam harinya. “Kakak, sebagai pelatihan
memasak aku akan memandumu! Dan perintahku adalah kau harus mengajariku
memasak.!” Kata Felia. “Eh, kenapa aku harus membantu mengajarimu memasak?”
tanyaku keheranan. Dia menegrnyitkan alisnya. “Aku kan sudah bilang, ini untuk
pelatihan kakak. Menjaga kesabaran dalam memasak itu penting lho.?! Kalau kakak
mengajariku kan kakak bisa belajar melatih kesabaran dan juga bisa membuat
kreasi baru dari mengembangkan menu makan kita sehari-hari?” tuturnya dengan
samngat cepat. Tapi yang dia ucapnkan itu tidak ada salahnya.
“Baiklah, aku akan mengajarimu, tapi
ingat ya ini hanya untuk aku belajar tidak ada alasan lain. Kalau kamu sudah
biasa dasarnya, kamu kan bisa mengkreasikannya senidiri...?” kataku memberi
alasan. Ia hanya mengangguk. “Baiklah kita mulai dari...” “Menentukan masakan
dam menyiapkan bahan-bahan..!!” Sahut Felia. “Itu udah ngerti” ledekku. Kami
mulai memasak. Awalnya aku hanya berniat melatihnya untuk belajarku sendiri,
tapi ternyata memasak bersama memang menyenangkan.
“Kriiing....kriiing...kringgg...kr..tit”
“Aduh, aku ngantuk bener, sudah jam enam ya?” “Kakak, bangun. Cepat bersiap..!”
kata Felia keras sambil menggedor-gedor pintu kamarku. Setelah bersiap, aku
segera turun. Aku melihat Felia sedang memakai sepatu dan siap berangakat.”Eh
kakak, ayo cepat nanti terlambat! Kau taukan hari ini adalah hari pertandingan
kakak. Kakak harus siap!” Kata Felia mengingatkan. Aku hanya mengangguk.
Sampai disekolah. “Kak, aku tinggal ke
kelas dulu ya. Acara lomba memasaknya akan dilaksanakan pada jam kedua. Nanti
aku akan datang menemuimu. Sampai nanti, selamat berjuang..!”
“Hoi, pagi-pagi udah ngelamun. Mikirin
apa?” ledek Hyuga tiba-tiba. “Ah kamu, tidak ada masalah kok.” Jawabku.
“Ngomong-ngomong gimana, udah siap belum? Tapi dari tampang loe spertinya udah
dicharging 100%, hahaha..” ledeknya lagi. “Ya sudah lah, sebaiknya kita segera
masuk kelas.” Ajakku.
Jam kedua dimulai. Aku sudah
mempersiapkan apa yang akan aku perlukan nanti termasuk mental. Tak lama
kemudian Felia menghampiriku. “Gimana, udah siap?” Tanyanya. “Tentu saja. Kalau
tidak siap tidak usah menjadi lawanku.” Sahut Suzuzka yang tiba-tiba muncul. Kami
hanya menatapnya terkejut. “Kenapa? Tidak usah memandangku seperti itu! Lagian
benarkan perkataanku?” Lanjutnya. “Ya, kau memang benar.” Sahutku tak mau
kalah.
“Ting...ting...ting...” “Perhatian,
lomba memasak antar siswa akan segera dilaksanakan. Dimohon kepada para peserta
untuk segera mempersiapkan diri. Terima kasih.” “Udah ada pengumuman tuh. Kamu
harus siap! Dan menangkan gelar sebagai koki cilik sekolah, O.K?!” Seru Felia.
Aku hanya mengangguk. “Ayo kita buktikan sekarang, siapa diantara kita yang
benar-benar jago memasak!” kata Suzuka. “Baik” jawabku. Kami berdua memasuki
ruangan lomba.
“Baik, saya akan membacakan peraturan
lombanya. Peraturan dan tata tertib lomba, 1. Semua peserta wajib memasuki
ruang lomba dan tidak ada yang terlamabat. 2. Bahan dan alat disediakan oleh
sekolah. 3. Semua peserta tidak oleh mengganggu atapun melihat hasil kerja
peserta yang lain sebelum bel tanda selesai berbunyi, 4. Setelah bel bebunyi,
pesrta harus selesai memasak dan menyerakan hasil masakannya kepada juri, 5.
Bagi yang melanggar peraturan, akan didiskualifikasi saat itu juga. Demikian
peraturan dan tata tertibnya. Lomba akan dimulai dalam 3, 2, 1, mulai.....!”
Seru panitia lomba.
“Semangat Reikhan..!!” Seru Felia dari
tempat menonton. Aku hanya fokus pada bahan-bahan yang aku pilih. Disaat yang
bersaman, aku melihat Sania sedang mengumapt-umpat, “Cih, akau akan
mengalahkanmu, lihat saja nanti.”
Sudah dua puluh menit berlalu. Aku
berkata dalam hati, “Tinggal 10 menit lagi, aku tinggal menghias. Untung tadi
malam Felia menyarankan ku memilih masakan masak singkat, jadi 20 menit sudah
siap. Kau memang hebat Felia. saranmu benar-benar berguna.”
Disaat itu aku melirik pada meja Suzuka.
Ia juga sudah jadi dan tinggal menghias sepertiku. Ternyata dia juga memilih
masakan masak cepat ya? Aku tak sadar, ternyata Suzuka juga melirikku. Aku
terkejut dan spontan kembali menatap apa yang aku buat.
“Teng...teng...teng..” “Baik waktunya
telah selesai. Para peserta silahkan mengumpulkan hasil masakannya!” kata
panitia lomba.
Semuanya telah mengumpulkan masakannya.
Akupun mengumpulkan hasil karyaku. Setelah aku menaruhnya ke meja juri, aku
mundur seraya meninggalkan meja juri. “Auwh!” Kata seseorang dibelakangku.
Ternyata aku tidak sengaja menabraknya. Karena tadi kukira di sana tidak ada
orang. Aku membalikkan badanku untuk menolongnya dan, “Suzuka?! Maafkan aku, aku
benar-benar tidak sengaja. Kupikir tadi tidak ada orang.” Kataku. “Apa? pasti kamu sengaja menjatuhkankukan? kamu pikir aku membawa makanan dan akan merusak masakan yang aku buatkan? kau benar-benar curang Kyouko...!.” Balasnya menuduhku.
"Tidak Suzuka, ini tidak seperti yang kau pikirkan. aku benar-benar tidak sengaja." Kataku membela diri. "Ada apa ini? kenapa ribut-ribut sendiri?" Sahut Ketua Osis yang sekaligus sebagai panitia lomba."Sudah-sudah, kita selesaikan masalah ini manti. lagi pula, bukankah kau sudah mengumpulkan makananmu Suzuka?" Lanjut penitia. Suzuka hanya mengangguk. Dairenji, lebih tepatnya ketua osis meninggalkan kami berdua.
10 menit berlalu. “Baiklah, semua hasil
masakan kalian telah dinilai dan telah menemukan hasilnya. Kita mengambil juara
tiga besar dalam lomba ini, dimulai dari juara ketiga. Yang emndapat juara
ketiga adalah Ayakashi Reina kelas 1.C, juara kedua diraih oleh Dairenji Suzuka kelas 2.A, dan juara pertama diraih oleh Kyoko Kazawa kelas 2.A. Selamat
bagi pemenang lomba.” Siaran dari panitia. “Oh ya, pengumuman, bagi yang ingin
mengetahui hasil peringkat peserta lainnya, silahkan lihat di papan pengumuman.
Terima kasih.” Lanjutnya.
“Ap-apa...?! mana mungkin? Ini...aku
kalah? Dan...aku kalah oleh orang yang aku tantang?” Kata Suzuka tak percaya. Ku
perhatikan dia, tiba-tiba ia melangkahkan kakinya kesuatu tempat. Aku
mengikutinya. Ruang juri? Apa yang dia lakukan disana?
“Permisi sensei, bukannya saya tidak menerima
kekalahan saya atau apa, tapi saya tidak percaya anak baru itu mengalahkan
saya?!” Kata Suzuka yang kudengar dari luar ruangan. “Kau memang pernah menjadi
juara, tapi itu tidak menjamin keberhasilanmu tahun ini. Aku membuat kejuaraan
ini sesuai dengan masakan kalian. Kalau tidak percaya silahkan kau coba masakan
yang dibuat oleh tiga pemenang.” Kata Kana-sensei. “Ini, cobalah!” lanjutnya
seraya memberikan masakan.
Aku melihat dari balik jendela. Sania
benar-benar mencobanya. Kulihat pertama ia memakan masakan juara ketiga dan
mengakhirkan milikku. Giliran mencoba milikku, ia agak ragu untuk mencoban, ya
atau tidak. Dan akhirnya ia mencobanya.
“Masakan apa ini? Bagaimana bisa dia
membuat makanan seenak ini? Aku tidak percaya. Aroma ini, bumbu, dan teksturnya
sangat tidak asing tetapi memiliki rasa yang berbeda.” Kata Suzuka tak percaya
lagi. “Itulah yang membuatku terlena dan menguatkan tekatku untuk memilihnya.”
Sahut Kana-sensei. “Maafkan sikap saya yang lancang ini bu. Saya permisi dulu.”
Lanjut Suzuka. Setelah itu ia meninggalkan ruangan. Aku bergegas sembunyi.
Aku duduk disebuah bangku taman.
Tiba-tiba Suzuka datang, ia menatapku, “Maafkan aku, aku mengaku kalah.
Masakanmu benar-benar enak, dan aku telah merasakannya sendiri. Aku akan
menepati janjiku. Aku akan melakukan apapun yang kau minta, dan aku akan
berusaha untuk memenuhinya.” Katanya sambil membungkukkan badannya. “Aku tidak
papa. Aku sudah lega karena kamu mau mengakui kekalahanmu. Bagiku itu sudah
cukup. Sekarang berhentilah membungkuk dan duduk kemari.” Kataku.“Baiklah”
Balasnya.
“Huuh, kau itu hebat. Aku tidak menyangka
kau segenius itu dalam memasak. Kenapa tidak jadi Koki saja. Kau itu sangat
berbakat.” Kata Suzuka. “Kau sepertinya benar, dulu ibuku pernah bercerita
kepadaku, bahwa almarhum ayahku dulu adalah seorang koki yang hebat. Aku ingin
seperti beliau. Bahkan sekarang aku punya seorang adik perempuan yang sangat
mendukungku. Aku berharap biasa menjadi seperti ayah.” Balasku. “Kenapa kau
tidak mencobanya? Aku akan membantumu. Selalu.” Lanjut Suzuka.
“Terima kasih Suzuka. Mulai sekarang aku akan berusaha untuk menjadi seorang koki yang hebat. Bukan seperti ayahku, tapi seperti jati diriku sendiri....! dan satu lagi." Kataku.
"Apa?" Tanya Suzuka.
"Suzuka..."
"Iya?"
"Kau,...Jadilah temanku?!"
Seketika wajahnya merona, "Tentus aja." Jawabnya sambil tersenyum manis.
Dan mulai saat itu, aku berusaha untuk menjadi yang terbaik, menjadi koki yang handal, bukan seperti ayahku, tepati sebagai jati diriku sendiri. dan yang lebih menyenangkan lagi, aku dibantu oleh gadis rival yang sekarang menjadi temanku, Dairenji Suzuka......
“Terima kasih Suzuka. Mulai sekarang aku akan berusaha untuk menjadi seorang koki yang hebat. Bukan seperti ayahku, tapi seperti jati diriku sendiri....! dan satu lagi." Kataku.
"Apa?" Tanya Suzuka.
"Suzuka..."
"Iya?"
"Kau,...Jadilah temanku?!"
Seketika wajahnya merona, "Tentus aja." Jawabnya sambil tersenyum manis.
Dan mulai saat itu, aku berusaha untuk menjadi yang terbaik, menjadi koki yang handal, bukan seperti ayahku, tepati sebagai jati diriku sendiri. dan yang lebih menyenangkan lagi, aku dibantu oleh gadis rival yang sekarang menjadi temanku, Dairenji Suzuka......
********
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar